Kisah Aiptu Yeskiel Dirikan 82 Paud Dan Kursus Bahasa Inggris Untuk Anak-Anak Di Kualin, NTT
Written by Naya Kia on 23 June 2025
Suara Kupang – Sudah 16 tahun Aiptu Yaskiel bertugas di Polsek Kualin. Sejak itu pula Yaskiel melihat kurangnya minat anak-anak di kampung itu untuk berangkat sekolah. Untuk sampai ke Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur butuh waktu dua jam.
Keinginan Aiptu Yeskiel bukan tanpa alasan. Sudah 16 tahun dia bertugas di Polsek Kualin. Sejak itu pula dia melihat kurangnya minat anak-anak di kampung itu untuk berangkat sekolah. Ditambah lagi fasilitas yang ada juga tak mendukung. Bahkan untuk sekadar akses menuju sekolah saja, tak terurus.
Berbekal kondisi seadanya dia memberanikan diri membuka layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan kelompok bermain di beberapa desa. Seperti desa Tuafanu, Toineke, Neutfanu dan Desa Tuapakas di Kecamatan Kualin. Dia memutuskan menambah kelas PAUD dan kelompok bermain. Jika dihitung, total ada 82 sekolah binaan yang didirikan.
Sebagai polisi di polsek terpencil, sesungguhnya Yeskiel tak punya biaya lebih. Mengandalkan pemasukan bulanan di gaji saja. Tetapi, dia hitung secara matang. Syukur, cukup untuk biaya operasional sekolah hingga menggaji pengajar serta pengelola.
Setelah mengecek kelancaran proses belajar mengajar di PAUD, Yeskiel putar otak. Dia ingin anak-anak di sana tak sekadar memiliki kemampuan akademis. Harus ada skil sebagai bekal di masa depan. Dia putuskan menambahkan kursus bahasa Inggris. Menurutnya, itu penting mengingat perubahan teknologi kian membutuhkan ketrampilan, serta kemampuan berbahasa asing.
Ada dua ruangan yang disekat di area ruang tamu rumahnya. Disulap menjadi tempat kursus bahasa Inggris dilakukan. Meski seadanya, tetapi dia yakin sangat berguna.
Yeskiel membukan les bahasa Inggris untuk segala usia. Mulai dari enam tahun hingga mahasiswa. Sebagai pengajar, dia panggil kerabatnya yang memiliki kemampuan mengajar bahasa Inggris bernama Jaqualine Y. Lakilaf.
Untungnya menjadikan kerabat sebagai pengajar, Yeskiel kadang bisa bernego soal waktu pembayaran. Kadang per tiga bulan, per enam bulan, atau saat Yeskiel merasa gajinya sebagai anggota Polri cukup.
Walau modal nekat, kelas Bimbel asuhan Yeskiel bisa membantu sekitar 170 orang anak dalam kurun waktu tiga tahun.
Yeskiel yang lulus polisi tahun 2002 itu bersama istrinya, Feby Nailius juga membentuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang merupakan program pendidikan non formal untuk kesetaraan SD, SMP dan SMA bagi para warga putus sekolah.
PKBM Gratya namanya. Dibangun sejak 2023 lalu, para peserta PKBM juga terlibat sebagai kelompok tani yang mengelola empat hektare lahan kosong di belakang rumah Yeskiel.
Selain terlibat dalam pertanian, ibu rumah tangga peserta PKBM juga membentuk kelompok tenun ikat. Yeskiel membelikan kebutuhan tenun, seperti benang dan pewarna bagi belasan ibu rumah tangga untuk menenun selendang dan kain ukuran sedang.
Yeskiel mengizinkan ibu-ibu untuk mengerjakan hasil tenunnya di rumah masing-masing, sehingga tidak meninggalkan peran mereka dalam mengurus rumah tangga.
Kain hasil tenunan dijual kembali kepada Yeskiel. Hasil penjualan dimanfaatkan 40 persen untuk pengadaan kembali bahan baku tenun, sedangkan 60 persen diberikan kepada penenun.
Tak hanya mengurus dunia pendidikan. Aipda Yeskiel Hadjo yang lahir di Desa Pariti, Kabupaten Kupang itu juga merambah pertanian.
Di sore hari kelas PKBM yang didominasi orang tua berubah menjadi tempat pelatihan keterampilan, mulai dari baca tulis hingga pengelolaan pertanian.
Lahan seluas empat hektar di belakang rumahnya yang dulu hutan kini berubah menjadi kebun sayur, dan juga ditanami jagung.
Kebun ini dikelola bersama PKBM sebagai bentuk pemberdayaan dan pelatihan kerja. Walau punya banyak kegiatan pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian, ekonomi dan pendidikan, Yeskiel tidak melupakan tugas utamanya sebagai anggota Polri.
Ia rutin mengikuti apel pagi dan menyelesaikan seluruh tugas dan tanggung jawabnya sebagai Wakapolsek Kualin. Yeskiel juga aktif pada pelayanan rohani sebagai majelis gereja di GMIT Kualin.
Yeskiel tak pernah berharap mendapat penghargaan. Baginya, melihat anak-anak bisa menulis nama sendiri dan bisa berbahasa Inggris sederhana adalah kepuasan tersendiri.
Dari Kupang ke Kualin, perjalanan panjang ini bukan sekadar memotret kehidupan seorang polisi perwira berpangkat Aiptu. Lebih dari itu, sosok Aiptu Yeskiel menjadi pengingat bahwa di balik seragam cokelat dan kesunyian desa, ada cahaya kecil yang menyala dari seorang polisi yang memilih menjadi penabur harapan.
Sumber: https://www.merdeka.com/