Prediksi Musim Kemarau 2025 di NTT

Written by on 28 March 2025

Suara Kupang – Pada Jumat (21/3/2025), Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Siaran Pers mengenai Prediksi Musim Kemarau 2025 di wilayah Provinsi NTT secara virtual melalui Zoom Meeting. Dalam kesempatan ini, hadir pula perwakilan Pemerintah Provinsi NTT, yakni Kepala Biro Pemerintahan – Setda Provinsi NTT, Bapak Drs. Alexander Rihi, M.Si, dan PLT Kepala Bagian Materi dan Komunikasi Pimpinan, Ibu Selfi Nange, S.Sos, M.Si, M.Pub.Pol.

Bapak Doris Rihi, dalam arahannya, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang mendalam kepada BMKG, khususnya kepada Stasiun Klimatologi Kelas II NTT. Beliau menekankan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, memberikan pemahaman tentang kapan musim kemarau akan terjadi, serta dampak-dampak yang dapat timbul. Informasi ini sangat penting agar kita dapat mengantisipasi lebih awal, dan mempersiapkan diri dengan lebih baik. Dalam penutupan arahannya, beliau menyampaikan salam dari Pemerintah Provinsi NTT, termasuk dari Gubernur dan Wakil Gubernur, untuk seluruh masyarakat NTT: “Ayo Bangun NTT, mari bersama-sama membangun NTT. Tuhan memberkati kita semua.”

Acara dilanjutkan dengan sambutan resmi dari Direktur Perubahan Iklim BMKG Pusat, Bapak Fachri Radjab, S.Si, M.Si. Dalam sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTT atas kerja sama yang sangat baik selama ini. BMKG berkomitmen untuk terus mendukung pembangunan di NTT dengan menyediakan informasi di bidang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Bapak Fachri juga menekankan pentingnya perhatian terhadap perubahan iklim yang semakin nyata. Data BMKG menunjukkan bahwa tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah, baik di Indonesia maupun secara global. Hal ini menandakan bahwa perubahan iklim sudah terjadi, dan langkah-langkah adaptasi serta mitigasi sangat diperlukan untuk mengantisipasi dampaknya. Rilis prediksi musim kemarau diharapkan menjadi acuan bagi langkah-langkah antisipasi serta peningkatan produktivitas pertanian dan perkebunan di NTT.

Selanjutnya, Kepala Stasiun Klimatologi NTT, Bapak Rahmattulloh Adji, menyampaikan ringkasan prediksi musim kemarau tahun 2025. Musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih lambat dari biasanya dengan curah hujan yang lebih tinggi dari normal (Atas Normal). Dari 28 Zona Musim (ZOM) di NTT, 25 ZOM diperkirakan akan memulai musim kemarau pada bulan April 2025 (89%), sedangkan 5 ZOM lainnya pada bulan Mei (11%). Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 2025. Bapak Rahmattulloh menekankan bahwa informasi ini sangat penting bagi semua sektor, terutama dalam mitigasi bencana kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta kebutuhan air bersih bagi masyarakat. BMKG, kata beliau, selalu berkomitmen memberikan informasi yang akurat dan cepat untuk mendukung perencanaan dan langkah-langkah strategis dalam menghadapi musim kemarau.

Acara ini juga dihadiri oleh Koordinator Bidang Variabilitas dan Perubahan Iklim BMKG Pusat, Koordinator MKG Provinsi NTT, para KUPT BMKG se-Provinsi NTT, Kepala Unit Kerja Pemerintah Provinsi dan Kabupaten di NTT, Kalaksa BPBD Kota Kupang, media massa, LSM, perwakilan Bank Indonesia, serta para petani alumni Sekolah Lapang Iklim NTT dan partisipan lainnya.

BMKG mengimbau kepada Kementerian/Lembaga (K/L), Pemerintah Daerah, institusi terkait, dan seluruh masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif dengan langkah-langkah konkret, seperti:

Sektor Pertanian : Menyesuaikan jadwal tanam di wilayah yang diperkirakan mengalami musim kemarau lebih awal atau lebih lambat. Pilih varietas tanaman yang tahan kekeringan dan optimalkan pengelolaan air di daerah yang mengalami musim kemarau lebih kering. Di wilayah dengan curah hujan lebih tinggi, manfaatkan kesempatan ini untuk memperluas lahan sawah guna meningkatkan produksi pertanian.

Sektor Kebencanaan : Meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang diperkirakan mengalami musim kemarau dengan curah hujan normal atau lebih rendah dari normal.

Sektor Lingkungan : Waspadai potensi memburuknya kualitas udara di kota-kota besar dan daerah rawan karhutla, serta gangguan kenyamanan akibat suhu udara yang panas dan lembap selama musim kemarau.

Sektor Energi : Mengelola pasokan air secara efisien untuk menjaga kelangsungan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), irigasi, dan kebutuhan air baku, terutama di wilayah dengan musim kemarau yang lebih panjang atau lebih kering.

Sektor Sumber Daya Air : Mengoptimalkan sumber air alternatif dan memastikan distribusi air yang efisien guna memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat selama musim kemarau.

Dengan langkah-langkah antisipatif yang tepat, diharapkan dampak buruk musim kemarau dapat diminimalisir, dan ketahanan masyarakat serta sektor-sektor penting lainnya dapat tetap terjaga.

Sumber : https://tiriloloknews.com/


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Current track

Title

Artist

Background
Open chat
Powered by