Ricuh Pendataan Lokasi PLTP Ulumbu, Satu Warga Pingsan, 4 Lainnya Ditangkap
Written by Ines on 3 October 2024

Suara kupang– Warga Pocoleok, Kecamatn Satar Mese, Kabupaten Maggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadang petugas PLN Rayon Ruteng dan pegawai Pemkab Manggarai, Rabu 2 Oktober 2024.
Mereka menolak tim gabungan mengidentifikasi pendataan awal lokasi rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau PLTP Ulumbu.
Pihak PLN dan Pemkab Manggarai dikawal ketat oleh puluhan anggota TNI, Polri dan Satpol PP.
Namun, kehadiran mereka disambut dengan aksi jaga kampung oleh ratusan warga.
Sempat terjadi perdebatan sengit antara warga dan pihak pemkab. Warga tidak mengizinkan pihak PLN dan dan pemkab masuk ke lokasi.
Meski demikian, pihak PLN dan Pemkab Manggarai tetap memaksa. Mulai dari situ terjadi saling dorong antara aparat keamanan dengan warga.
Warga Kampung Lungar, Ponsianus Lewang yang ikut dalam aksi jaga kampung mengalami cedera berat akibat ditendang di bagian rusuk kiri oleh aparat.
Ponsi sempat pingsan di tempat, kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.
Sementara itu, empat orang warga ditangkap. Mereka adalah Agustinus Tuju (warga Gendang Nedru), Hilarius Bandi (warga Gendang Nderu), Karolus Gampur (warga Gendang Jong), dan Florianus Madur (warga Gendang Mucu).
Warga meminta dan menuntut pihak kepolisian untuk melepaskan warga yang ditangkap. Namun, polisi hanya melepaskan Florianus Madur. Sementara tiga orang lainnya tetap ditahan di dalam mobil polisi.
Pihak aparat juga melarang dan mengejar anak-anak muda yang mengambil foto dan video pada saat kejadian.
Warga Pocoleok, Milin mengatakan, empat warga itu diamankan saat aksi baku dorong antara aparat gabungan dengan masyarakat yang menolak perluasan lokasi PLTP Ulumbu.
“Empat warga ditahan dan satu pingsan akibat aksi represif aparat keamanan. Satu lagi wartawan yang ikut diamankan,” kata Milin saat dihubungi Kamis siang.
Menurutnya, penangkapan warga oleh aparat keamanan merupakan bagian dari strategi agar masyarakat takut.
“Kami menilai aparat keamanan berupaya mematahkan semangat warga untuk terus menolak ini perluasan lokasi pembangunan PLTP Ulumbu,” ujarnya.
Dia bersama warga lain menyesali aksi kekerasan dari aparat kepolisian dan TNI terhadap masyarakat kecil yang sedang memperjuangkan haknya untuk hidup aman di wilayah itu.
Pemimpin Umum Floresa.co, Ryan Dagur membenarkan jurnalis media itu turut diamankan saat meliput kegiatan dari PT PLN dan Pemkab Manggarai tersebut.
Ia menyebut, sang jurnalis sudah dibebaskan pada Rabu sore. Meski begitu, jurnalis mereka belum bisa dihubungi dan memberikan informasi kepada redaksi karena masih syok.
Kapolres Manggarai AKBP Edwin Saleh mengatakan, anggotanya melakukan pengamanan sesuai tugas untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Empat orang yang diamankan karena menghindari mereka jadi koban atau jadi pelaku,” jelas Edwin saat dikonfirmasi Kamis 3 Oktober.
Ia menambahkan, aparat sudah melepaskan empat orang tersebut pada Rabu sore.
“Mereka dilepas karena tidak salah. Mereka diamankan untuk menghidari jadi pelaku dan korban,” ujar Edwin.
Source: https://kupang.tribunnews.com