Fakta-Fakta Ilmiah Gempa Jepang, Sumber Hingga Mekanisme
Written by SKFM Jojo on 9 August 2024

Suara Kupang – Gempa dangkal dengan kekuatan M 7,1 mengguncang Jepang pada Kamis (8/8) dan menyebabkan tsunami kecil di sejumlah daerah. Berikut fakta-fakta ilmiah gempa Jepang.
Gempa tersebut mengguncang Kochi, Provinsi Miyazaki, Jepang, Kamis (8/8)pukul 14.42.58 WIB. Lembaga Meteorologi dan Geofisika Jepangpun mengeluarkan peringatan tsunami
Gempa ini berdampak dirasakan paling kuat di Prefektur Miyazaki dengan skala intensitas mencapai VI-VII MMI dan berpotensi menimbulkan kerusakan. Media lokal juga melaporkan sejumlah pantai diJepang kena gelombang tsunami di bawah setengah meter.
Berikut daftar fakta ilmiah gempa yang guncang Jepang, Kamis (8/8):
Sumber gempa
Daryono, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengungkap gempa ini bisa memicu tsunami lantaran dipicu sejumlah faktor.
Yakni, pusat gempa (episenter) adadi laut dan termasuk gempa dangkal. Tepatnya,kedalaman 39 km di laut.
Selain itu, mekanisme gempanya berupa penunjaman lempeng (subduksi) dan sesar naik. Artinya, blok batuan tertentu naik akibat penunjaman itu.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan hiposenternya, gempa ini merupakan jenis gempa dangkal yang diduga dipicu aktivitas subduksi Nankai Trough dengan mekanisme sesar naik (thrust fault),” tutur dia, dalam keterangan tertulis, Kamis (8/8).
Melansir The Geological Society, Nankai Trough menandai subduksi lempeng Laut Filipina di bawah Jepang, bagian dari lempeng Eurasia. Jenis batas lempeng ini biasanya berupa palung samudera (seperti halnya batas-batas lain di tepi Lempeng Pasifik), tetapi di tempat ini volume sedimen yang tinggi terakumulasi di Nankai Trough yang berarti ada sejumlah besar sedimen palung yang berubah bentuk.
Di daerah ini juga terdapat sejumlah seamount (gunung bawah laut) yang muncul dari dasar laut yang tertutup oleh sedimen yang terakumulasi.
Tsunami di bawah 50 cm, tak sampai RI
Gempa tersebut memicu gelombang tsunami di sejumlah wilayah di Provinsi Miyazaki, Kochi, dan Kagoshiwa pada Kamis sore. Namun begitu, ketinggian tsunami relatif kecil, karena tak sampai di atas 50 cm.
Di Miyazaki, ketinggian air mencapai 50 cm, di Nichinan Aburatsu mencapai 40 cm, dan di Hyuga Hozoshimaketinggiannya 10 cm. Sementara itu, di Tosa Shimizu, Kochi dengan ketinggian 20 cm.
Tsunami juga menerjang di wilayah Tanegashima Island Kumano, Kagoshima, dengan ketinggian 10 cm.
BMKG, dalam keterangan resminya, mengungkap bahwa tsunami di Jepang tidak berpotensi sampai ke Indonesia.
“Hasil pemodelan tsunami TOAST oleh BMKG menunjukkan bahwa gempa ini dapat memicu tsunami dengan potensi ancaman WASPADA dengan tinggi kurang dari setengah meter (0,5 meter < ) di sekitar pusat gempa,” ujar Daryono.
“Dan tidak berpotensi tsunami di wilayah Indonesia,” tandasnya.
Mekanisme gempa
Daryono mengatakan bahwa mekanisme gempa yang mengguncang Jepang ini berupa penajaman lempeng (subduksi) dan sesar naik atau thrust fault.
Thrust fault adalah jenis patahan naik yang berpotensi menimbulkan getaran jika bergeser dengan kekuatan tertentu.
Menurut Survei Geologi AS (USGS) jenis patahan ini umum terjadi di daerah kompresi, seperti daerah di mana satu lempeng disubduksi di bawah lempeng lainnya seperti di Jepang. Ketika sudut kemiringannya dangkal, sesar geser sering digambarkan sebagai sesar naik.
Source : https://www.cnnindonesia.com