Ketika Radio Menemukan Napas Baru: Membaca Relasi Penyiar–Pendengar Lewat Kacamata Interaksi Simbolik

Written by on 29 November 2025

SuaraKupang – Di tengah hiruk pikuk TikTok, YouTube, dan Instagram, siapa yang masih mendengarkan radio? Pertanyaan itu sering muncul, seolah radio adalah media tua yang perlahan kehilangan relevansinya. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Radio justru menemukan napas baru di era digital, bukan karena teknologi canggih, tetapi karena kedekatan emosional dan interaksi antarmanusia yang tidak tergantikan.

Di sinilah menariknya, perubahan radio hari ini hanya bisa dipahami jika kita melihatnya bukan sebagai alat penyiaran, tetapi sebagai ruang sosial, tempat makna dan identitas dibangun melalui interaksi. Sesuatu yang sudah lama dijelaskan oleh teori interaksi simbolik, terutama oleh George Herbert Mead (1934) dan Herbert Blumer (1969) yang menekankan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses pemberian makna oleh individu dalam interaksi sehari-hari.

Radio Bukan Sekadar Menyiar, tetapi Membangun Hubungan

Ada alasan mengapa radio tidak mati meskipun kompetitornya semakin banyak. Radio tidak menawarkan kecanggihan visual, tetapi menawarkan sesuatu yang lebih mendasar, yaitu kedekatan. Penyiar bukan hanya “orang di balik mikrofon” dan Pendengar bukan hanya “konsumen”. Keduanya terhubung melalui interaksi simbolik berupa sapaan, cerita, candaan, bahkan sekadar menyebut nama pendengar yang mengirim pesan. Blumer (1969) menyebut proses ini sebagai “meaning-making”, yaitu tindakan manusia yang didorong oleh makna, dan makna itu lahir dari interaksi.

Setiap sapaan adalah simbol. Setiap balasan adalah makna. Dan setiap hubungan itu dibangun melalui proses yang terus berulang.

Mead telah menegaskan sejak awal bahwa identitas seseorang terbentuk melalui proses yang ia sebut social act (Mead, 1934). Maka ketika seorang pendengar merasa “dekat” dengan penyiar radio, itu bukan perasaan yang muncul begitu saja. Itu adalah konstruksi sosial yang nyata, yang dibangun oleh interaksi terus-menerus antara keduanya.

Era Digital Mengubah Pendengar Menjadi Mitra

Jika dulu radio berjalan satu arah yaitu penyiar bicara, pendengar mendengarkan, kini tidak lagi. WhatsApp, Instagram Live, Live TikTok dan komentar real-time mengubah pendengar menjadi mitra dalam menentukan arah program. Di beberapa radio, pendengar bahkan bisa mengarahkan topik, menegur penyiar, atau berbagi cerita yang kemudian mewarnai alur siaran.

Contohnya bisa dilihat pada Radio Suara Kupang. Pendengar tidak lagi sekadar menjadi penerima pesan, tetapi turut membentuk suasana siaran melalui komentar, cerita personal, dan diskusi kecil yang lahir spontan. Dalam kerangka interaksi simbolik, ini disebut sebagai proses definition of the situation (Thomas & Thomas, 1928), yaitu bagaimana makna siaran dibentuk melalui persepsi dan partisipasi kedua belah pihak.

Inilah yang membuat radio hari ini menjadi ruang yang sangat berbeda dibandingkan satu dekade lalu.

Tapi, Apakah Interaksi Ini Demokratis?

Meski tampak partisipatif, ada pertanyaan penting yang perlu kita ajukan, apakah pendengar benar-benar punya ruang untuk mempengaruhi keputusan program?

Teori interaksi simbolik mengingatkan bahwa definisi situasi tidak pernah bebas dari struktur sosial. Dalam konteks radio, institusi tetap memegang kendali, seperti komentar mana yang dibaca, topik mana yang boleh naik, suara mana yang layak masuk udara siaran. Dengan kata lain, realitas siaran adalah hasil negosiasi, tetapi bukan negosiasi yang setara.

Ini mirip dengan kehidupan sosial kita, yaitu tampak bebas, tetapi selalu berada dalam batas-batas yang ditentukan struktur. Radio hanya merefleksikan pola itu dalam bentuk lain.

Radio Lokal adalah Penjaga Identitas yang Justru Semakin Penting

Dalam dinamika kota-kota Indonesia Timur, khususnya Kupang, radio bukan hanya media. Ia adalah ruang komunitas.

Radio lokal menyatukan masyarakat yang terpisah oleh jarak fisik. Ia menjadi tempat berbagi kabar, bercanda, mengirim salam, dan membangun solidaritas saat bencana atau krisis. Fungsi sosial ini tidak dimiliki media digital lain.

Ketika penyiar menyapa pendengar dengan nama, itu lebih dari sekadar formalitas. Itu adalah bentuk pengakuan sosial, simbol kehadiran yang mengikat komunitas.

Radio membentuk komunitas, bukan sekadar audiens.

Mengapa Kita Perlu Melihat Radio Secara Berbeda

Jika kita hanya melihat radio sebagai media tradisional yang makin mengecil, kita kehilangan pemahaman penting, yaitu Radio adalah ruang interaksi yang membentuk identitas komunitas, Penyiar dan pendengar saling menciptakan makna melalui symbol, dan Era digital justru memperkuat hubungan emosional itu.

Radio hidup bukan karena teknologi, tetapi karena hubungan manusia adalah sesuatu yang tidak bisa direplikasi algoritma.

Radio Tidak Menua, Kita Hanya Perlu Memahami Cara Ia Hidup

Saat kita menyalakan radio, kita sebenarnya memasuki ruang simbolik tempat cerita, makna, dan emosi dipertukarkan. Radio tidak mati. Ia berevolusi menjadi ruang dialog yang lebih cair, lebih intim, dan lebih manusiawi.

Dan mungkin, di era ketika media sosial terasa semakin riuh dan melelahkan, kedekatan sederhana antara penyiar dan pendengar adalah hal yang justru kita butuhkan sebagai ruang kecil yang membangun rasa “kita”, bukan sekadar “aku”.

Radio tidak pernah benar-benar pergi.

Kita hanya perlu mendengarnya dengan cara yang berbeda.

 

 

Kreator: Junaidy Alkadir Kapitan B

(Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajdjaran)

 

 

 

 


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Current track

Title

Artist

Background
Open chat
Powered by