Waspadai Dampak Cuaca Dingin di NTT, Ancaman Kesehatan hingga Karhutla
Written by Naya Kia on 21 July 2025
Suara Kupang – Cuaca dingin ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak awal Juni 2025 dipicu oleh Monsun Australia, yang membawa angin kencang bersifat dingin dan kering dari tenggara.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena ini akan berlangsung hingga Agustus mendatang.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nenot’ek, mengungkapkan bahwa arah angin dari tenggara ke timur menyebabkan penurunan suhu udara secara signifikan, terutama pada malam hingga dini hari.
“Suhu di wilayah dataran tinggi seperti Soe dan Ruteng tercatat mencapai 13–15°C, terutama saat tutupan awan minim,” jelas Sti, seperti dikutip dari RRI, pada Jumat (18/7).
Menurutnya, fenomena ini tak hanya membawa hawa dingin, tapi juga memperkuat kondisi musim kemarau.
BMKG menyebutkan bahwa puncak kemarau di wilayah NTT biasanya terjadi antara akhir Juni hingga Juli, dengan curah hujan sangat minim dan kelembapan udara rendah.
BMKG mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap dampak cuaca dingin, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Penggunaan pakaian hangat dan menjaga daya tahan tubuh sangat dianjurkan untuk mencegah gangguan kesehatan seperti flu, hipotermia, dan infeksi pernapasan.
Selain itu, kondisi angin kencang dan kekeringan memperbesar potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG meminta warga untuk menghindari aktivitas pembakaran lahan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana kebakaran di area rentan.
BMKG memprediksi bahwa musim hujan baru akan mulai masuk secara bertahap di wilayah NTT pada Oktober 2025.
Sementara itu, masyarakat diminta untuk tetap mengikuti informasi cuaca resmi dari BMKG dan tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi.
Sumber: https://manggarai.pikiran-rakyat.com/