Penyintas Letusan Gunung Lewotobi Jual Sisa Harta di Tenda Pengungsian

Written by on 15 July 2025

Suara Kupang – Kehidupan di posko-posko pengungsian tidak bergantung seutuhnya dari bantuan kemanusiaan. Seiring waktu berjalan, para penyintas korban letusan Gunung Lewotobi Laki-laki berusaha semampu mungkin demi menopang hidupnya sehari-hari.

Sejumlah pengungsi di Pos Lapangan (Poslap) Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT, mengais sisa-sisa hartanya dari kebun yang berada di zona bahaya erupsi kemudian dijual di tenda darurat.

Salah satunya Algonda Tukan (60), penyintas yang saban hari menjual singkong, pisang, dan terong. Hasil bumi itu dipanen dari kebunnya di Desa Nawokote, Kecamatan Wulanggitang, kampung yang terpaut 5 kilometer dari dua gunung api aktif.

“Yang dijual ini sisa-sisa tanaman yang selamat dan layak dikonsumsi. Sehari dapat Rp 20.000 saja sudah senang sekali,” katanya, ditemui belum lama ini.

Algonda dan suaminya belum berani ke kebun setelah erupsi besar Senin (07/07/25) kemarin. Ia trauma dengan keadaan, tak terkecuali penyintas lain yang dihadapkan dengan urusan angsuran dan biaya pendidikan.

Saat menuju Nawokote, penyintas merogoh kocek Rp.20.000 sampai Rp 30.000.000 untuk transportasi pulang-pergi. Pengeluaran yang kadang tak sesuai pemasukan.

“Yang orang tidak beli akan jadi makanan (alternatif) kami di sini,” ujarnya.

Di depan posko, pinggir Jalan Trans Pulau Flores Larantuka-Maumere, terdapat beberapa penyintas penjual pisang dan singkong. Semua yang dijual datang dari jerih lelah yang mereka usahakan.

TRIBUNFLORES.COM kemudian mengunjungi Hunian Sementara (Huntara) di Desa Konga, sekitar 600 meter dari Posko Konga. Di sana ada ribuan penyintas asal Desa Dulipali, Desa Klatanlo, dan sebagiannya lagi dari Dusun Kampung Baru.

Aktivitas ekonomi mulai hidup, mulai dari usaha kios kecil hingga penjual kue. Ada juga petani yang mengolah komoditi kelapa menjadi kopra lalu dijual ke pengepul.

Meski status Gunung Lewotobi Laki-laki masih level IV (Awas) dengan rekomendasi aktivitas 7 kilometer, tak sedikit penyintas yang nekat ke zona bahaya. Mereka ke sana untuk memanen hasil bumi yang tersisa.

Saat menuju Nawokote, penyintas merogoh kocek Rp.20.000 sampai Rp 30.000.000 untuk transportasi pulang-pergi. Pengeluaran yang kadang tak sesuai pemasukan.

“Yang orang tidak beli akan jadi makanan (alternatif) kami di sini,” ujarnya.

Di depan posko, pinggir Jalan Trans Pulau Flores Larantuka-Maumere, terdapat beberapa penyintas penjual pisang dan singkong. Semua yang dijual datang dari jerih lelah yang mereka usahakan.

TRIBUNFLORES.COM kemudian mengunjungi Hunian Sementara (Huntara) di Desa Konga, sekitar 600 meter dari Posko Konga. Di sana ada ribuan penyintas asal Desa Dulipali, Desa Klatanlo, dan sebagiannya lagi dari Dusun Kampung Baru.

Aktivitas ekonomi mulai hidup, mulai dari usaha kios kecil hingga penjual kue. Ada juga petani yang mengolah komoditi kelapa menjadi kopra lalu dijual ke pengepul.

Meski status Gunung Lewotobi Laki-laki masih level IV (Awas) dengan rekomendasi aktivitas 7 kilometer, tak sedikit penyintas yang nekat ke zona bahaya. Mereka ke sana untuk memanen hasil bumi yang tersisa.

“Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 6 kilometer, dan sektoral barat daya-timur laut 7 kilometer dari pusat erupsi,” imbau PGA Lewotobi dalam laporan tertulisnya.

Sejak dua hari terakhir, 9-10 Juli 2025, Lewotobi Laki-laki tidak mengalami erupsi. Meski begitu, kawah gunung strato volkano itu mengeluarkan asap bertekanan. Potensi erupsi dahsyat masih bisa terjadi kapan saja.

Seperti yang terjadi pada Senin (07/07/25) lalu, Lewotobi Laki-laki reaktif signifikan lalu erupsi setinggi 18.000 meter. Sebelum letusan terjadi, pengamat PGA Lewotobi memberikan himbauan beberapa jam sebelumnya.

Sumber: https://flores.tribunnews.com/


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Current track

Title

Artist

Background
Open chat
Powered by