Hasil Kajian BRIN Tak Rekomendasikan Pemasangan Chattra di Borobudur

Written by on 11 September 2024

Suara Kupang – Kepala Sub Koordinator Museum dan Cagar Budaya Borobudur (dulu Balai Konservasi Borobudur), Wiwit Kasiyati mengungkap hasil kajian teknis dari BRIN dan Kementerian Agama mengenai rencana pemasangan chattra di Candi Borobudur.

Menurut Wiwit hasil kajian teknis dari BRIN dan Kemenag merekomendasikan pemasangan chattra tidak semestinya dilakukan menimbang lemahnya struktur stupa inti Candi Borobudur.

Rekomendasi ini, menurut dia, sejalan dengan masukan arkeolog dan ahli sejarah Daud Aris Tanudirjo selaku verifikator dan Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Marsis Sutopo, masyarakat serta komunitas lainnya.

“Rekomendasinya tidak dipasang, karena kekuatan struktur sangat lemah, sehingga berbahaya jika dipasang, jadi mulai hari ini atau besok pagi perancah yang ada di stupa inti akan kami bongkar karena sudah selesai kajian teknisnya,” kata Wiwit saat dihubungi, Selasa (10/9).

Bagaimanapun, lanjut Wiwit, keputusan akhir dari wacana pemasangan chattra ini bukan ranahnya, melainkan pemerintah pusat.

Museum dan Cagar Budaya Borobudur hanya sebatas mengawal kajian-kajian oleh Kemenag dan BRIN semata.

Dengan demikian, Wiwit menilai upacara peresmian chattra yang rencananya dilangsungkan 18 September 2024 pun menjadi abu-abu.

“Kalau menurut kami di lapangan abu-abu, tapi saya nggak tahu proses yang ada di Jakarta. Proses dalam arti yang disampaikan yang tersebar itu, bahwa akan ada peresmian, itu kan ada tim sendiri ya, kami tidak tahu itu perkembangannya seperti apa,” ucapnya.

Sebelumnya, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) menyatakan menolak rencana pemasangan chattra di Candi Borobudur karena kajian BRIN yang dijadikan dasar tidak memenuhi aspek akademis dan prosedur.

Dalam keterangannya, Ketua IAAI Marsis menyebut pihaknya melihat pemasangan Chattra tidak berdasarkan bukti ilmiah, tetapi hanya mereka-reka. Selain itu, prosedur kajian tidak sesuai dengan aturan yang tertuang dalam UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Merespons rencana pemasangan tersebut, Marsis mengatakan pihaknya akan secara resmi berkirim surat kepada Menteri Agama serta Direktur Jenderal terkait, Mendikbudristek serta Direktur Jenderal Kebudayaan, Menko Marinves, dan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sebagai bentuk penolakan IAAI atas rencana pemasangan tersebut.

Pernyataan IAAI ini merespons rencana peresmian pemasangan chattra Candi Borobudur yang menurut informasi di media sosial akan dilakukan pada tanggal 18 September 2024. Pemasangan ini juga dikabarkan akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.

Pakar Warisan Budaya Daud Aris Tanudirjo menyebut cacat prosedur yang paling fatal dari pemasangan Chattra ini adalah Kajian Dampak Cagar Budaya. Menurutnya, proses dan kualitasnya belum sesuai standar.

“Kalau menurut saya, bagian yang paling penting sebenarnya di Kajian Dampak Cagar Budaya. Baik dalam proses maupun kualitasnya belum sesuai dengan standar yang ada,” ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Menurut Daud, ada sejumlah prosedur yang kurang tepat dalam kajian tersebut yang seharusnya mengacu pada Undang-undang Cagar Budaya.

Proses yang benar harusnya meliputi studi kelayakan rencana pelaksanaan, diikuti studi teknis yang lebih rinci. Kemudian, hasilnya diajukan sebagai proposal untuk pemasangan chattra kepada otoritas, dalam hal ini Kemendikbudristek, lalu dilakukan Kajian Dampak Cagar Budaya oleh tim independen.

 

Source : https://www.cnnindonesia.com


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Current track

Title

Artist

Background
Open chat
Powered by