Suara Kupang FM

Pelajar Kupang Hadirkan Cerita Rakyat NTT ke Dunia Digital Lewat Lomba Animasi di Museum

SuaraKupang – UPTD Museum Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadirkan cara baru bagi generasi muda untuk mencintai budaya: menghidupkan kembali cerita rakyat melalui film animasi. Selama dua hari, 20–21 November 2025, Aula Museum NTT menjadi pusat kreativitas pelajar SMA/SMK se-Kota Kupang yang mengikuti Lomba Film Animasi Pendek bertema “Cerita Rakyat NTT”.

Berbeda dari kegiatan museum yang identik dengan koleksi dan pameran, program ini membuka ruang bagi siswa untuk menerjemahkan kekayaan tradisi lokal ke dalam karya digital. Kepala UPTD Museum NTT, Meffi Eoh, SH, melihat langkah ini sebagai upaya menjembatani warisan budaya dengan perkembangan teknologi yang semakin masif.

“Museum bukan sekadar tempat menyimpan benda lama. Ia adalah ruang belajar nilai dan karakter. Dalam era teknologi, nilai budaya harus tetap menjadi kendali,” ujar Meffi.

Ia menegaskan bahwa teknologi justru dapat memperkuat jati diri budaya jika digunakan dengan visi yang tepat. Karena itu, lomba animasi dipilih sebagai medium kreatif yang dekat dengan dunia remaja masa kini namun tetap memuat pesan peradaban.

Provinsi NTT sendiri memiliki keberagaman budaya yang luas: rumah adat, tarian tradisional, kain tenun, hingga sistem sosial unik dari berbagai etnis. Menurut Meffi, semua kekayaan itu membutuhkan generasi muda yang mampu mengangkatnya ke medium baru agar tetap dikenal dan relevan.

Melalui lomba ini, peserta diajak mendalami unsur budaya dalam cerita rakyat—mulai dari nilai moral, simbol adat, hingga konteks historis—untuk kemudian divisualisasikan dalam karya animasi yang mendidik dan menarik. Program ini juga sekaligus memperkenalkan koleksi museum kepada pelajar, agar mereka memahami pentingnya pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.

“Museum berupaya merawat koleksi bukan hanya sebagai benda mati, tetapi sebagai sumber ilmu dan pendidikan. Lewat kegiatan ini, kami ingin mengajak generasi muda untuk tidak melupakan budaya sebagai landasan hidup,” jelasnya. Meffi turut menyampaikan apresiasi kepada guru pendamping, dewan juri, dan panitia yang telah mendukung keberhasilan program. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai wadah kreativitas sekaligus pelestarian budaya daerah.

 

Sumber : Suarakupang