Suara Kupang – Sejumlah investor yang berkiprah di sektor Panas Bumi (geothermal) di Pulau Flores dan Lembata bakal tersungkur.
Pasalnya hampir semua Uskup di wilayah itu menyatakan Menolak pengeksploitasian seluruh proyek panas bumi (Geothermal) yang tersebar di seluruh Pulau Flores dan Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Yang sudah direncanakan kami sepakat dipending, sambil memastikan lingkungan benar-benar aman,” tegas Gubernur Melky Laka Lena usai pertemuannya dengan Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, di Istana Keuskupan Ende.
Menurut Gubernur Melky, penghentian proyek panas bumi akan berlangsung sampai seluruh dampak kerusakan lingkungan dapat dipastikan dalam kondisi aman.
“Jadi proyek geothermal yang belum dibangun tidak dapat dilanjutkan sebelum ada jaminan keselamatan lingkungan dan masyarakat. Iya, Kalau tidak aman, lebih baik tidak ada panas bumi di provinsi NTT,” tegas Gubernur Melky.
Sembari meminta wartawan untuk terus menyiarkan komitmennya agar menghentikan aktivitas proyek panas bumi yang telah berjalan namun menimbulkan dampak negatif.
Gubernur Melky juga mengatakan dalam waktu dekat, Pemprov NTT akan memanggil seluruh pihak terkait untuk membahas ulang arah dan dampak proyek panas bumi.
Ia menyebutkan perlunya keterlibatan seluruh pihak agar proses perbaikan berjalan cepat, tepat, dan sesuai aspirasi masyarakat.
“Kami memastikan semua yang terlibat akan diterima untuk menyesuaikan dengan masukan masyarakat dan Gereja,” kata Gubernur Melky.
Sebelumnya Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, menyampaikan berbagai masukan penting terkait kondisi sosial dan lingkungan akibat proyek geothermal tersebut. Masukan itu diterima langsung oleh Gubernur Melky dan dijadikan dasar untuk menghentikan sementara proses pengembangan panas bumi.
Gubernur Melky menegaskan bahwa suara masyarakat dan Gereja (tokoh agama) merupakan bagian penting dalam pengambilan kebijakan pembangunan daerah.
“Masukan dari bapak Uskup menjadi catatan penting untuk memperbaiki seluruh proyek panas bumi yang berdampak merusak lingkungan,” ujar Gubernur Melky.
Pemerintah Provinsi NTT juga akan membuka ruang dialog lebih luas agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan masyarakat dimana lokasi peoyek geothermal berada.
Keterlibatan masyarakat dan tokoh agama dipastikan menjadi komponen utama dalam setiap langkah pembangunan di wilayah NTT.
Pulau Flores termasuk Lembata yang secara geografis ada di Timur Indonesia itu bukan cuma kaya dengan potensi pariwisata.
Akan tetapi juga menyimpan harta karun berupa tenaga panas bumi yang berlimpah.
Bicara tentang panas bumi di Flores, menurut data PT PLN Unit Pelaksana Pembangkitan Flores bahwa Pulau Flores diproyeksi memiliki potensi panas bumi sampai 660 Megawatt (MW).
CNBC Indonesia merilis, Manager Unit Pelaksana Pembangkitan Flores PT PLN (Persero) Lambok R Siregar memaparkan berdasar hasil studi kasar di Forum Group Discussion, Pulau Flores diproyeksi memiliki potensi panas bumi sampai 660 Megawatt (MW).
“Itu masih kasar sekali, untuk satu pulau Flores. Belum studi lebih lanjut seperti sudah uji geologi, geoseismik, dan lainnya,” ujar Lambok saat paparan di Ende.
Untuk potensi yang riil dan sudah teruji, menurut Lambok yang bisa dioptimalkan dan masuk dalam sistem kelistrikan Flores adalah 115 MW sampai 135 MW di 2028.
Rinciannya adalah; PLTP Ulumbu Manggarai sebesar 620 MW, PLTP Sokoria Ende sebesar 30 MW, PLTP Mataloko Ngada 2×10 MW, PLTP Oka Ili Ange Flores Timur 10 MW, dan PLTP Atadei Lembata.
Menurut Lambo, ini secara perlahan, pembangkit energi terbarukan akan menggantikan pembangkit diesel yang saat ini masih mendominasi kelistrikan Flores.
Lambok menjelaskan, Flores akan mengandalkan pembangkit-pembangkit rendah emisi. PLTD akan digantikan oleh PLTMG yang berbahan bakar gas untuk mengisi beban puncak.
“Memang untuk PLTP akan kita gunakan sebagai base loaded, tapi untuk beban puncak pada pukul 7 malam sampai 10 malam akan gunakan PLTMG. Saat ini bauran energi baru di Flores sudah mencapai 18,9%. Porsinya 20 Megawatt (MW) dari total 112 Megawatt yang sudah terpasang saat ini,” ujar Lambok.
Bauran energi baru akan melonjak jadi 23% di Flores mulai Februari 2020 mendatang, yakni dengan masuknya listrik dari Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) Sokoria sebanyak 5 MW.
Dengan begitu, lanjut dia, Flores akan lebih dulu mencapai target energi baru yang ditetapkan oleh pemerintah.
Secara nasional, pemerintah menargetkan porsi bauran energi baru dan terbarukan bisa mencapai 23% di tahun 2025.
Lambo menambahkan, PLTP Sokoria merupakan Independent Power Producer (IPP) atau dibangun oleh investor swasta berasal dari Islandia, yakni PT Sokoria Geothermal Indonesia.
Sumber : https://citra-news.com/