Suara Kupang – Ratusan siswa dari lima kelompok belajar di SMAN 1 Amarasi Barat begitu antusias mengikuti perkenalan tentang jurnalistik dari wartawan Pos Kupang dan Kupang Berita, Sabtu 13 Oktober 2024
Pengenalan tentang jurnalistik ini merupakan salah satu materi dari tema Suara Demokrasi dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada implementasi kurikulum merdeka di sekolah mereka.
Wartawan Pos Kupang, Ryan Tapehen yang membawakan materi tentang dasar jurnalistik dan kiat menulis berita di lingkup sekolah.
Para siswa diberikan pemahaman bagaimana bentuk dan struktur sebuah berita yang baik serta memberikan contoh langsung menyusun sebuah berita yang layak dikonsumsi banyak orang.
Sebagai contoh, Ryan memberikan beberapa contoh berita yang sudah dipublikasi terkait sejumlah kegiatan di sekolah mereka.
Sementara Makson Saubaki dari media Online KupangBerita.com berbagi pengalaman bagaimana mengasah kemampuan membuat berita serta cara membuat sebuah berita menjadi trending topik dan dicari banyak orang.
Para siswa begitu antusias mengikuti topik demi topik bahasan yang dibawakan kedua jurnalis ini dan diakhir materi begitu banyak pertanyaan yang mereka siapkan untuk mendalami materi yang dibawakan.
Kurang lebih ada 5 pertanyaan yang dilontarkan para siswa mulai dari cara membuat berita menjadi menarik sampai bertanya terkait tantangan kedua jurnalis ketika menghadirkan produk berita.
Waktu dua jam yang disiapkan sekolah seakan tidak cukup bagi mereka, bahkan usai kegiatan di dalam ruangan para siswa masih sempat bertemu kedua jurnalis dan berdiskusi mengenai beberapa topik yang akan mereka jadikan bahan berita.
“Terima kasih untuk kaka berdua, tujuan kami adalah agar siswa-siswi diajak untuk bagaimana mereka bisa mengunakan suara mereka, pikiran dan mindset mereka agar dapat dituangkan dan dikomunikasikan kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan khussnya melalui berita,” ungkap Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Amarasi Barat, Thomas Doni di usai kegiatan tersebut.
Terkait informasi lisan bisa dilakukan antara siswa, siswa dengan guru, antara lingkungan sekitarnya orang tua dan masyarakat.
Bagi dia dengan pengenalan ini apa yang siswa pikirkan dalam benak mereka dapat mereka tuangkan dalam sebuah tulisan.
“Oleh karena itu, untuk menghasilkan sebuah berita yang memenuhi semua element berita dan menyakinkan orang lain kita butuh orang yang punya kemampuan dalam menulis berita,”jelas Thomas Doni.
Dengan langkah awal ini, kemitraan yang sudah terbangun dapat memberikan dukungan kepada dunia pendidikan di sekolah mereka.
Sebagai tindak lanjut mereka akan memacu siswa mereka untuk menghasilkan sebuah karya jurnalistik di lingkungan sekolah dan di publikasi di Majalah Dinding (Mading) sekolah.
Kegiatan dengan jurnalis ini juga kata dua mendukung program dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT yaitu gerakan NTT membaca, NTT menulis yang telah di launching pada tanggal 3 Oktober lalu juga sejalan dengan gerakan literasi sekolah.
Source : https://kupang.tribunnews.com